MUHAMMAD SEORANG RESELLER
Bismillahirrohmanirrohim,
Segala puji bagi Allah,
Tuhan Semesta Alam. Tulisan yang berjudul Muhammad Seorang Reseller ini adalah
mengenai kepribadian seorang Muhammad SAW atau Rasulullah sebagai pribadi
pengusaha. Semoga isi dari tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
Menginjak usia 12
tahun, Muhammad kecil sudah belajar sekaligus bekerja sebagai seorang
penggembala. Dengan profesi ini secara tidak langsung dia menempa jiwa-jiwa
dasar yang nantinya dia butuhkan saat menjadi dewasa kelak, dari segi jiwa
kepemimpinan, jiwa sosialisasi, dan jiwa pekerja keras.
Dari kecil ia sudah
berani mengambil resiko menjalani pekerjaan ini disaat anak-anak lain masih
huru-hara bermain. Ia lebih memilih menjadi seorang penggembala yang menandakan
ia sudah memiliki bakat entrepreneur, berani mengambil resiko.
Dimana dari menjadi penggembala
ini ia diibaratkan sebagai seorang karyawan yang menempa dirinya.
Selang 3 tahun lamanya
ia menjadi seorang penggembala atau karyawan. Di umur yang ke 15 tahun, ia
mulai belajar berdagang melalui pamannya. Terbukti bahkan seorang nabi pun juga
belajar, ia tidak serta merta langsung terjun menjadi pengusaha tanpa tahu
ilmunya.
Ibarat sebuah
kendaraan, kendaraan yang mewah dan besar pasti perlu ilmunya. Mengayuh becak
mungkin tidak perlu ilmu, mengayuh sepeda mungkin tidak perlu ilmu juga, cukup
mengandalkan keterampilan dan usaha.
Namun tidak untuk
mengendarai pesawat, perlu ilmu untuk menerbangkannya.
Jika bisnis besar
diibaratkan pesawat, begitu pula untuk menjadikan bisnis besar juga perlu ilmu.
Muhammad yang berusia 15 tahun itu pun belajar bagaimana berbisnis atau
berdagang langsung dari pamannya, Abu Thalib seorang saudagar Mekkah yang
disegani.
Disegani bisa karena ia
orang yg berbudi pekerti, tokoh masyarakat ataupun seorang saudagar yang sukses
dan kaya.
Dikaji dari segi pelajaran
atau ilmu, belajar pun harus dengan orang yang berkompeten dibidangnya.
Sama halnya Muhammad
yang belajar berdagang langsung dari pedagangnya yang tidak lepas juga ia
mendapat berbagai macam pelajaran. Juga dari pedagang lain karena berada dalam
lingkaran pedagang pula.
Seperti halnya kata
orang bijak “Lingkungan membentuk karaktermu” tinggal di lingkungan mayoritas
pedagang Mekkah menjadikan Muhammad yang waktu itu mempunyai berbagai
pengalaman sehingga ia berhasil membesarkan bisnisnya sendiri hingga ke pelosok
jazirah Arab.
Adapun jazirah Arab
yang sudah terjangkau olehnya adalah Syam, Syiria, Persia, Ethiopia. Jika kita
lihat di peta Dunia sekarang. Wilayah-wilayah tersebut sudah masuk ke dalam
negara yang berbeda.
Bayangkan saja Muhammad
yang pada waktu itu masih muda berkisar umur 15-25 tahun sudah berhasil
melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh pelosok negeri. Subhanallah, Maha Suci
Allah.
Tapi ada suatu yang
menarik dari sistem bisnis Muhammad ini, Muhammad seorang pedagang adalah
seorang yang hanya menjualkan lagi barang yang didapatnya atau mendistribusikannya
ke daerah lain.
Di zaman modern ini
biasa dipanggil seorang Reseller.
Bayangkan saja dari
seorang Reseller ia berhasil menjadi pemuda yang kaya raya. Terbukti saat
melamar Khadijah ra. Muhammad menghibahkan mas kawin sebanyak 70 unta merah. 1
unta merah bisa mencapai 1 limosin bila dirupiahkan sekarang (dari buku
Muhammad sebagai Pedagang)
Betapa pintarnya Nabi
kita ini, Junjungan kita ini, Teladan kita ini, Kekasih Allah satu ini, Rasul Allah yang
dimuliakan ini.
Ia secara tidak
langsung dan langsung sudah memberikan rumus kepada umatnya bagaimana menjadi kaya
melalui perdagangan.
Menjadi seorang
Reseller pun bisa menjadikan Muhammad seorang yang kaya raya. Tentunya dengan
ilmu bisnis yang ia punya.
Bahkan ilmu bisnis yang
paling paten diterapkannya adalah kepercayaan yang timbul dari kejujuran. Wajarlah
Nabi Muhammad menjadi kaya melalui berdagang karena ia telah mendapat gelar
Al-Amin (Yang jujur) jauh sebelum menjadi nabi.
Gelar itupun di dapat
dari para masyarakat sekitar, bukan melalui perguruan tinggi seperti zaman
sekarang.
Kaitkan saja dengan
lulusan perguruan tinggi negeri yang bergelar sarjana tapi tidak kaya juga. Gelarnya
jauh tertinggal dengan gelar Al-Amin yang dimiliki Muhammad yang sewaktu itu
seorang pedagang.
Gelar yang didapatnya
pun tidak perlu mengejar 144 sks atau mengejarkan skripsi. Betapa teladannya
engkau, Ya Rasulullah.
Nabi mana lagi yang pernah
mencontohkan dan mengajarkan umatnya menjadi kaya?
Jika nabi Sulaiman
mengajarkan umatnya kaya dengan menjadi raja.
Jika nabi Yusuf mengajarkan umatnya menjadi kaya dengan menjadi menteri.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan
umatnya menjadi kaya hanya melalui berdagang. Allahumma shalli ala Muhammad wa’ala
ali Muhammad.
Bahkan Rasulullah pun
mengajarkan umatnya untuk menjadi kaya, karena dengan kaya kita bisa lebih
mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Berjuang di jalan
Allah yang paling mudah adalah dengan harta atau uang
Bukankah berhaji,
sedekah, memberikan yatim piatu itu membutuhkan uang?
Bukankah membangun
masjid rumah Allah yang megah, menjadi donator masjid juga butuh uang?
Bukankah membangun
sekolah, mendirikan yayasan rumah sakit juga membutuhkan uang?
Sudahlah, hanya orang
picik yang beranggapan orang miskin lebih dekat dirinya kepada Tuhan.
Jika disuruh memilih,
apakah kita mau dekat dengan Allah SWT dengan hubungan si miskin yang masuk surga
dengan dekat kepada Tuhannya?
Atau
Si kaya yang masuk surga
dengan dekat kepada Tuhannya? (tentunya dengan membelanjakan hartanya di jalan
Allah)
Lalu si miskin bisa
membelanjakan apa di jalan Allah? Jika untuk hidup saja dia susah.
Jika tulisan ini
terlalu menghardik orang miskin, bukan karena merendahkan tapi membuka mata
yang masih merasa miskin untuk menjadi kaya. Kaya di jalan Allah SWT.
Dalam suatu hadist,
Rasulullah pun pernah bersabda “Berdaganglah engkau karena 9/10 pintu rezeki
itu dari berdagang”
Bukankah memang
terbukti, dunia ini digerakkan oleh sistem perdagangan?
Dan tidak lain tidak
bukan, nama lain pedagang di zaman sekarang adalah pengusaha atau entrepreneur.

