MUHAMMAD SEORANG RESELLER

Rabu, 29 Januari 2014

MUHAMMAD SEORANG RESELLER


Bismillahirrohmanirrohim,


Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Tulisan yang berjudul Muhammad Seorang Reseller ini adalah mengenai kepribadian seorang Muhammad SAW atau Rasulullah sebagai pribadi pengusaha. Semoga isi dari tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Menginjak usia 12 tahun, Muhammad kecil sudah belajar sekaligus bekerja sebagai seorang penggembala. Dengan profesi ini secara tidak langsung dia menempa jiwa-jiwa dasar yang nantinya dia butuhkan saat menjadi dewasa kelak, dari segi jiwa kepemimpinan, jiwa sosialisasi, dan jiwa pekerja keras.

Dari kecil ia sudah berani mengambil resiko menjalani pekerjaan ini disaat anak-anak lain masih huru-hara bermain. Ia lebih memilih menjadi seorang penggembala yang menandakan ia sudah memiliki bakat entrepreneur, berani mengambil resiko.

Dimana dari menjadi penggembala ini ia diibaratkan sebagai seorang karyawan yang menempa dirinya.

Selang 3 tahun lamanya ia menjadi seorang penggembala atau karyawan. Di umur yang ke 15 tahun, ia mulai belajar berdagang melalui pamannya. Terbukti bahkan seorang nabi pun juga belajar, ia tidak serta merta langsung terjun menjadi pengusaha tanpa tahu ilmunya.

Ibarat sebuah kendaraan, kendaraan yang mewah dan besar pasti perlu ilmunya. Mengayuh becak mungkin tidak perlu ilmu, mengayuh sepeda mungkin tidak perlu ilmu juga, cukup mengandalkan keterampilan dan usaha.

Namun tidak untuk mengendarai pesawat, perlu ilmu untuk menerbangkannya.

Jika bisnis besar diibaratkan pesawat, begitu pula untuk menjadikan bisnis besar juga perlu ilmu. Muhammad yang berusia 15 tahun itu pun belajar bagaimana berbisnis atau berdagang langsung dari pamannya, Abu Thalib seorang saudagar Mekkah yang disegani.

Disegani bisa karena ia orang yg berbudi pekerti, tokoh masyarakat ataupun seorang saudagar yang sukses dan kaya.

Dikaji dari segi pelajaran atau ilmu, belajar pun harus dengan orang yang berkompeten dibidangnya.
Sama halnya Muhammad yang belajar berdagang langsung dari pedagangnya yang tidak lepas juga ia mendapat berbagai macam pelajaran. Juga dari pedagang lain karena berada dalam lingkaran pedagang pula.

Seperti halnya kata orang bijak “Lingkungan membentuk karaktermu” tinggal di lingkungan mayoritas pedagang Mekkah menjadikan Muhammad yang waktu itu mempunyai berbagai pengalaman sehingga ia berhasil membesarkan bisnisnya sendiri hingga ke pelosok jazirah Arab.

Adapun jazirah Arab yang sudah terjangkau olehnya adalah Syam, Syiria, Persia, Ethiopia. Jika kita lihat di peta Dunia sekarang. Wilayah-wilayah tersebut sudah masuk ke dalam negara yang berbeda.

Bayangkan saja Muhammad yang pada waktu itu masih muda berkisar umur 15-25 tahun sudah berhasil melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh pelosok negeri. Subhanallah, Maha Suci Allah.

Tapi ada suatu yang menarik dari sistem bisnis Muhammad ini, Muhammad seorang pedagang adalah seorang yang hanya menjualkan lagi barang yang didapatnya atau mendistribusikannya ke daerah lain.

Di zaman modern ini biasa dipanggil seorang Reseller.

Bayangkan saja dari seorang Reseller ia berhasil menjadi pemuda yang kaya raya. Terbukti saat melamar Khadijah ra. Muhammad menghibahkan mas kawin sebanyak 70 unta merah. 1 unta merah bisa mencapai 1 limosin bila dirupiahkan sekarang (dari buku Muhammad sebagai Pedagang)

Betapa pintarnya Nabi kita ini, Junjungan kita ini, Teladan kita ini, Kekasih Allah satu ini, Rasul Allah yang dimuliakan ini.

Ia secara tidak langsung dan langsung sudah memberikan rumus kepada umatnya bagaimana menjadi kaya melalui perdagangan.

Menjadi seorang Reseller pun bisa menjadikan Muhammad seorang yang kaya raya. Tentunya dengan ilmu bisnis yang ia punya.

Bahkan ilmu bisnis yang paling paten diterapkannya adalah kepercayaan yang timbul dari kejujuran. Wajarlah Nabi Muhammad menjadi kaya melalui berdagang karena ia telah mendapat gelar Al-Amin (Yang jujur) jauh sebelum menjadi nabi.

Gelar itupun di dapat dari para masyarakat sekitar, bukan melalui perguruan tinggi seperti zaman sekarang.

Kaitkan saja dengan lulusan perguruan tinggi negeri yang bergelar sarjana tapi tidak kaya juga. Gelarnya jauh tertinggal dengan gelar Al-Amin yang dimiliki Muhammad yang sewaktu itu seorang pedagang.

Gelar yang didapatnya pun tidak perlu mengejar 144 sks atau mengejarkan skripsi. Betapa teladannya engkau, Ya Rasulullah.

Nabi mana lagi yang pernah mencontohkan dan mengajarkan umatnya menjadi kaya?
Jika nabi Sulaiman mengajarkan umatnya kaya dengan menjadi raja.
Jika nabi Yusuf mengajarkan umatnya menjadi kaya dengan menjadi menteri.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya menjadi kaya hanya melalui berdagang. Allahumma shalli ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.

Bahkan Rasulullah pun mengajarkan umatnya untuk menjadi kaya, karena dengan kaya kita bisa lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Berjuang di jalan Allah yang paling mudah adalah dengan harta atau uang

Bukankah berhaji, sedekah, memberikan yatim piatu itu membutuhkan uang?
Bukankah membangun masjid rumah Allah yang megah, menjadi donator masjid juga butuh uang?
Bukankah membangun sekolah, mendirikan yayasan rumah sakit juga membutuhkan uang?

Sudahlah, hanya orang picik yang beranggapan orang miskin lebih dekat dirinya kepada Tuhan.
Jika disuruh memilih, apakah kita mau dekat dengan Allah SWT dengan hubungan si miskin yang masuk surga dengan dekat kepada Tuhannya?

Atau

Si kaya yang masuk surga dengan dekat kepada Tuhannya? (tentunya dengan membelanjakan hartanya di jalan Allah)

Lalu si miskin bisa membelanjakan apa di jalan Allah? Jika untuk hidup saja dia susah.

Jika tulisan ini terlalu menghardik orang miskin, bukan karena merendahkan tapi membuka mata yang masih merasa miskin untuk menjadi kaya. Kaya di jalan Allah SWT.

Dalam suatu hadist, Rasulullah pun pernah bersabda “Berdaganglah engkau karena 9/10 pintu rezeki itu dari berdagang”

Bukankah memang terbukti, dunia ini digerakkan oleh sistem perdagangan?

Dan tidak lain tidak bukan, nama lain pedagang di zaman sekarang adalah pengusaha atau entrepreneur.

1 komentar :

  1. Maaf apakah bisa disebutkan referensi yang mengatakan Abu Tholib kaya? Sependek yang saya baca, Abu Tholib itu miskin. Terimakasih.

    BalasHapus