Seseorang Akan Diuji Dengan Apa Yang Ia Ucapkan

Kamis, 22 September 2016

Seseorang Akan Diuji Dengan Apa Yang Ia Ucapkan



Hasil gambar untuk termenung
Source : photobucket



Kalau kita pemerhati media sosial, tentu kita tahu bahwa berita salah satu motivator papan atas Indonesia sedang wara-wiri diberitakan di media online. Tidak tahu apakah ini salah satu strategi media untuk mengalihkan kita kepada isu besar yang ada di Indonesia bagian antah berantah yang sengaja ditutupi dengan pemberitaan seperti ini, karena memang pola yang dibuat media selalu seperti ini.

Namun, bukan soal itu yang akan saya tulis di kolom opini ini, saya mengajak pembaca untuk menganalisis dari kejadian atau pemberitaan mengenai sang motivator papan atas tersebut. Tidak untuk membicarakan kejelekannya, yang kita ambil adalah sisi lain dari kejadian ini.

Seseorang akan diuji dengan apa yang ia ucapkan.

Kawan, sadarkah kalimat di atas sungguh benar adanya. Ketika kita mengucapkan sesuatu baik berupa motivasi, teguran, nasehat atau malah janji kita akan diuji dengan apa yang kita ucapkan.

Setiap orang akan diuji dengan apa yang ia ucapkan. Ada banyak orang di Dunia ini, yang sering mengucapkan kata-kata motivasi, seruan kebaikan, penyemangat atau kritikan.

Tak lepas dari setiap profesinya, baik motivator, da'i, bahkan sekelas CEO sebuah perusahaan pasti juga kerap mendengungkan kalimat motivasi atau seruan kebaikan untuk dirinya sendiri atau orang lain. Bahkan, kita juga tak lepas dgn mengucap kata kebaikan kepada teman kita berupa nasehat, ajakan atau mungkin teguran.

Tetapi, sadarkah kita bahwa setiap apa yang kita ucapkan akan diuji nantinya?

Contoh, seorang CEO memotivasi anak buahnya untuk produktif dimulai dgn bangun pagi dan produktivitas kerja. CEO tersebut mengucapkan dgn begitu yakin kepada anak buahnya.

Tetapi, jika sang CEO hanya sekedar mengucapkan apakah perkataannya akan didengarkan? ternyata ia perlu diuji yaitu dengan menerapkan apa yang ia ucapkan. Sama hal, seorang penceramah yang mengajak orang lain pada seruan kebaikan. Jika ia tidak diuji terlebih dahulu untuk membuktikan ucapannya apakah ia bisa didengarkan oleh orang lain?

Hubungannya dengan motivator yang saya sebutkan di atas, beliau pun juga menghadapi fase seperti itu. Setiap kalimatnya yang mengajak pada kebaikan yang mana kita tahu bahwa muaranya kebaikan adalah ujung-ujungnya Tuhan, yaitu meyakini atau beriman bahwa ada Tuhan yang ikut campur dalam setiap urusan kita.

Setiap ucapan kita pasti akan diuji. Sekelas motivator seperti beliau saja yang berkata baik diuji seperti itu. Di antara kita, mahasiswa contohnya, juga banyak yang mengucapkan sesuatu baik berupa kalimat motivasi, kritikan, teguran apalagi janji, terlebih janji kampanye sebagai seorang pemimpin, atau janji hal lain. Setiap kita akan diuji dengan apa yang diucapkan.

Tulisan ini bukan untuk menakuti agar kita berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan walau sedikit menyerempet ke arah itu. Namun, lebih menekankan bahwa jangan terkejut ketika ucapan yang kita lontarkan akan diuji karena itu memang sudah kodratnya. Bahwa setiap apa yang kita ucapkan harus diuji. Baik dibuktikan atau dikerjakan.

Diuji adalah agar kita mendapat predikat Teruji. Teruji oleh ujian yang datang kemudian. Seseorang akan diuji dengan apa yang ia ucapkan. Seperti yang tercantum dalam kitab suci, apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan mengatakan kamu telah beriman sedang kamu belum diuji?

0 comment :

Posting Komentar